zakat


Penghasilan dalam bahasa inggris income, 
ialah periodic (usually annual) receips from one’s business, lands, work,invertements, etc, artinya: penerimaan-penerimaan yang diperoleh seseorang dari hasil bisnis, tanah, pekerjaan/profesi, investasi, dan sebagainya dalam waktu tertentu (biasanya dihitung pertahun).
Islam memerintahkan kepada para pemeluknya agar bekerja keras mencari rezeki yang halal guna mencukupi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya, baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohaninya. Islam memberikan kebebasan kepada setiap individu muslim memilih jenis kebebasan kepada setiap individu muslim memilih jenis usaha/pekerjaan/profesi yang sesuai dengan bakat, keterampilian, kemampuan, atau keahliannya masing-masing, baik yang berat dan kasar yang memberikan enghasilan kecil (blue collar) seperti tukang becak, maupun yang ringan dan halus yang mendatangkan penghasilan besar (white collar) seperti notaris. Yang penting penghasilan diperoleh secara sah dan halal, bersih dari unsur pemerasan (eksploitasi), kecurangan, paksaan, menggunakan kesempatan dalam kesempitan, dan tidak membahayakan dirinya dan masyarakat.
Tidak semua harta benda/kekayaan yang dimiliki oleh seserang terkena zakat. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan anatara lain:
a.       Bebas zakat, seperti rumah tempat tinggal beserta meubelair, mobil pribadi dan pperalatan kerja.
b.       Wajib dizakati harta bendanya saja, seperrti emas dan perak, apabila telah mencapai nisab dan haulnya.
c.       Wajib dizakati penghasilan dari harta bendanya saja seperti hasil dari tanah pertanian/perkrbunan dan sewa gedung.
d.       Wajib dizakati harta benda dan penghasilan yang timbul dari padanya, seperti hasil dari peternakan sapi dan perdagangan.
Adapun jenis penghasilan yang terkena zakat berdasarkan ketetapan al-quran dan/atau hadits nabi adalah sebagai berikut:
No. jenis usaha
nisab
Haul/waktu
persentase
Dasar hokum
1.       Perdagangan
2.       Pertanian/perkebunan (beras, jagung, gandum, kurma dan anggur)
3.       Peternakan
a.       Unta

b.       Sapi/kerbau

c.       kambing
93,6 gr
750 kg






5 ekor


30 ekor


40 ekor
setahun
waktu panen






Setahun


Setahun


setahun
2,5%
5% dengan irigasi 10% tadah hujan




Seekor kambing biasa umur 2th lebih
Seekor anak sapi/kerbau umur 2th lebih

Seekor kambing betina biasa umur 2th lebih, atau seekor kambing domba betina umur 1th lebih
Hadits nabi
Al-baqarah ayat 267 dan hadits nabi




Hadits nabi

Penghasilan-penghasilan yang diperoleh seseorang dari berbagai macam usaha/pekerjaan/profesi selain yang tersebut diatas (perdagangan, pertanian/perkebunan dan peternakan) juga wajib dizakati berdasarkan dalil qiyas (analogical reasoning). Bahkan harta benda apa saja yang diperoleh tanpa usaha apapun, misalnya warisan, hibah, wasiat hadiah juga wajib dizakatkan apabila sudah mencapai nisab dan haulnya.
Sudah tentu menggunakan qiyas sebagai dalil syar’i harus memenuhi syarat rukunnya, agar dapat menemukan hukum ijtihad yang akurat dan proposional. Dalam pemakaian qiyas, adanya persamaan illat hukum (alas an yang menyebabkan adanya hukum ) harus benar-benar ada, baik pada masalah pkok yang sudah ada ketatapan hukumnya berdasarkan al-quran dan/atau hadits, maupun pada masalah cabang yang mau dicari hukumnya, sebab illat hukum itu merupakan landasan qiyas.
Kita sependapat dengan Dr. Mahmud Syaltut, eks Rektor Universitas Al-Azhar Mesir, bahwa segala macam hasil pertanian/perkebunan (hasil bumi) diqiyaskan dengan hasil pertanian /perkebunan yang telah ditetapkan zakatnya (termasuk nisab, haul/ waktu, dan presentase zakatnya) oleh nas al-quran dan hadits nabi. Ada pulan ulama/cendekiawan muslim yang mengqiyaskan zakatnya dengan zakat perdagangan yang sudah tentu presentase zakatnya relatif lebih rendah (2,5% setahun berbanding 5-10% setiap panen).
Demikian pula segala jenis yang modal utama usahanya tetap/permanen (tidak berputar) seperti industri-industri berat dengan mesin-mesin raksasa dan segala peralatannya, dan usaha perhotelan dengan bangunan-bangunan yang megah dan mewah, sebaliknya diqiyaskan dengan usaha perkebunan/pertanian yang memakai alat mekanik, jadi zakatnya 5% setiap berproduksi, bukan 2,5% setahun, sebab sama-sama modal produknya tetap, ialah tanah bagi pertanian, sedangkan untuk industry perhotelan ialah pabrik-pabrik dengan segala peralatannya yang permanen dan bangunan-bangunan raksasa yang megah.
Mengenai penghasilan dari pegawai negeri/swasta dan yang mempunyai profesi modern seperti pengacara, notaris akuntan, konsultan dan sebagainya lebih dekat diqiyaskan zzakatnya dengan zakat perdagangan, karena sama-sama menjual yang satu menjual barang (perdagangan) sedangkan yang lain menjual jasa dan sama-sama mengandung resiko (untung/rugi).
Mengenai barang temuan (rikaz) apapun jenis barangnya, apakah berupa logam mulia, atau benda energy (BBM) apalagi kalau berupa benda-benda purbakala, tidak wajib dizakati, karena semua itu dikuasai Negara, jadi tidak jatuh kepada penemunya, karena kepentingan pribadi. Hal ini sejalan dengan UUD 1945 pasal 33 ayat 3 yang menegaskan:
Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Demikian pula hasil pertambangan tidak wajib dizakatkan, karena milik Negara, kecuali usaha pertambangan yang diizinkan oleh pemerintah, seperti usaha pendulangan emas/intan oleh rakyat maka hasilnya juga terkena zakat, apabila telah  mencapai nisab dan haulnya (nisabnya senilai 93,6 gram emas murni dan zakatnya 2,5% setahun).[1]


[1] H. nazar bakry, problematika pelaksanaan fiqh islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1994), hal.38-41

2 Komentar untuk "zakat"

Back To Top